HARI YANG ANEH (JUMAT YANG LALU)

22 Jan

HARI YANG ANEH (JUMAT YANG LALU)

Jika ditanya apakah aku kesal? Ya. Seharusnya peristiwa ini tidak perlu dibahas lebih lanjut, tapi masih ada yang bisa dipetik dari sekelumit kisah ini. Jumat lalu, singkat cerita, aku sudah membuat janji dengan Gege, seorang teman yang sudah lama tidak bertemu, belum lagi dia baru saja mengalami musibah, ditinggalkan ayah tercinta untuk selamanya. Aku sungguh-sungguh ingin bertemu dengannya sebagai seorang sahabat yang begitu rindu ingin berbagi.
Semua rencana dihari jumat aku nyatakan tidak bisa diganggu gugat, ajakan jalan dengan kawan yang lain aku tolak dengan alasan sudah ada janji, dan memang sudah dibuat jauh-jauh hari sebelumnya.
Sebelum hari itu tiba banyak hal yang sudah aku siapkan, aku sudah ‘booking’ seorang teman untuk mengantarku menuju mal yang kita sepakati dengan sepeda motornya, karena aku tidak mau berkompromi dengan kemacetan yang terkadang dijadikan alasan untuk datang terlambat.
Kedua, aku juga sudah siapkan oleh-oleh hasil liburan natal kemarin. Bahkan teman lain yang mengajak jalan hari itu dengan terpaksa ku tolak,please not on this Friday…
Di hari itu juga, ternyata ada berita dukacita, Ayah seorang teman dikantor, mbak Rara baru saja meninggal hari itu. Teman-teman yang lain berencana berkunjung kesana. Koordinasi pun dimulai, coordinator dadakan mulai mendata siapa saja yang akan ikut berkunjung, agar transportasi yang disediakan sesuai kebutuhan. Aku sebenarnya ingin sekali ikut, tapi aku juga sudah janji dengan Gege hari itu untuk bertemu. Pilihan yang sulit.
Aku memutuskan memenuhi janjiku, aku minta maaf karena tidak bisa ikut dengan rombongan yang lain dengan alasan ada janji yang lebih penting.
Jam 17 lebih, aku sudah bergegas menuju tempat yang kita sepakati, karena ada teman yang lain,Sisi yang tiba-tiba mau ikut, padahal sebelumnya sudah memastikan diri tidak bisa hadir. Dan aku pun harus membatalkan ‘booking ojeg’ku karena Sisi yang tiba-tiba ‘bisa’ ikut idak mungkin kubiarkan pergi sendiri. Pergilah kami kesana ditengah kemacetan ibu kota, hingga akhirnya sampai ditempat tujuan. Sebelum sampai dipintu masuk utama, Sisi menerima telpon dari sang suami yang memberitahu kalau dia sudah dekat lokasi tempat kami berada. Dan Sisi langsung pamit tanpa sempat memasuki pintu masuk mal.
Sampai pada batas itu, kesabaranku masih pada tempatnya. Sampai di dalam mal, aku mulai menelpon Gege, aku bilang kalau aku sudah sampai di mal. Bagai disiram seember air es, otakku membeku seketika, saat Gege bilang dia tidak bisa datang, bahkan dia tidak masuk kantor hari itu karena kakinya bengkak akibat insiden kecil diangkot kemarin.
Tanpa menunggu penjelasan lebih panjang lagi, aku hanya berkata “okay..” dan ku akhiri pembicaraanku dengan menekan tombol end call.
Hey, you can use the technology right, just to inform that you can’t be there. You have your own handset to make a call, as simple as that, or just send me a short message and I’ll be thankful coz I’m not wasting my time for nothing useless.

Aku bergegas menuju supermarket disitu, tujuanku hanya mencari air mineral dingin. Aku perlu menjernihkan pikiranku atas semua rentetan kejadian hari ini. Setelah menenangkan hatiku beberapa saat, aku mulai berpikir normal, untuk kembali pulang saat itu juga hanya akan membuatku lebih gila.
Menghadapi kemacetan yang masih berlangsung. Akhirnya kuputuskan menelpon seorang teman yang aku yakin akan menolongku dalam situasi ini. Hmm untung dia mengiyakan ajakanku untuk makan,meski aku tahu dia akan menghabiskan waktu lebih lama dijalan ,kemacetan belum lagi usai. Kita sepakat bertemu di pizza hut.
Sambil menunggu temanku datang,aku pesankan dulu paket deligth berdua, satu pizza Idaho, spagetty beef, garlic bread, 2 milk soda menu terbaru, ditambah fishbites dan kudapan ringan antara lain potatos wedges, onion ring dan chicken teriyaki.
kekecewaanku kulampiaskan pada makanan yang ku pesan, setelah berjuang mengalahkan macetnya Jakarta dan datang tepat waktu dengan sia-sia, aku kehabisan energy. Sambil menunggu pesananku datang, aku coba menghibur diri dengan mendengarkan mp3 dari ponselku yang sudah sekarat alias lowbat. Untuk membunuh kebosananku, aku buka file pictures, dan melihat-lihat foto liburan Natal kemarin. Mudah-mudahan sedikit melupakan kekesalanku.
Setelah pesananku datang, temanku tak kunjung muncul jua, aku tidak bisa menyalahkan juga, karena ini benar-benar mendadak. Dan aku butuh seseorang untuk teman bicara, aku tidak bisa menyimpan kekesalan ini untuk diriku sendiri.
Perutku mulai lapar, tanpa terasa aku telah menghabiskan sepiring fishbites, 2 potong garlic bread, beberapa potong potatos wedges dan onion ring, serta 2 potong chicken teriyaki. Sisanya aku sisihkan untuk temanku yang masih ditelan kemacetan Jakarta.

Tidak ada yang istimewa mungkin dalam kisah ini, tapi satu hal, sekecil apapun, sedikit apapun, hargailah waktu orang lain yang telah susah payah disisihkan untuk memenuhi keinginanmu. Meskipun seseorang itu bukan siapa-siapa yang kau anggap berharga atau penting, tapi sadarilah bahwa kau bukan satu-satunya penghuni bumi. Setiap orang punya kehidupan, jika waktu yang dia miliki tidak berharga untukmu, setidaknya mungkin berharga bagi orang lain. Jika kau tidak bisa menghargai waktu orang lain, waktu pun akan enggan menghargai keberadaanmu.

(this story written without anger, grudge, and hate, just filled by millions of disappointment.)

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :