ME AND BOXING (part 1)

24 Jan


ME AND BOXING (1)

Saya penggemar olahraga tinju alias boxing..tapi bukan berarti saya juga gemar berkelahi…
Sama sekali tidak. Entah mengapa, mungkin karena sejak kecil papa saya sering mengajak saya nonton pertandingan tinju kelas dunia di televisi. Mike Tyson alias si leher beton, petinju yang paling sering saya tonton dan saya tunggu-tunggu pertandingannya. Dan kerap kali saya juga merasa sedih jika tidak sengaja melewatkannya.

Sejak kecil , tepatnya SD, saya sudah hobby nonton film Rocky..Hulk Hogan juga salah satu favorite saya meskipun bukan dari dunia tinju dan papa saya juga entah dapat dari mana, memberikan saya dua pasang sarung tinju untuk main-main…meski kebesaran untuk ukuran tanganku kala itu. Dulu saya selalu berpikir mengapa tidak ada petinju wanita (saat itu), mengapa wanita tidak boleh bertinju…kalau ada, pasti saya jadi salah satu atletnya haha..tapi ketika Laila Ali tampil sebagai petinju wanita, saya merasa mendapat kawan, meski saya tidak menjadi seorang petinju yang sebenarnya, tapi setidaknya bukan saya wanita satu-satunya penggemar tinju.

Ini beberapa Petinju Dunia, yang saya kagumi dan ingin saya tonton pertandingannya, kecuali Muhammad Ali (karena saya belum lahir saat kejayaannya..), tapi kisahnya mampu mencuri perhatiannya saya.

~ Muhammad Ali (THE GREATEST)

Muhammad Ali adalah petinju terbaik pada masanya, bahkan para pengamat olahraga mengakuinya sebagai petinju terbaik abad ini. Sejarah tinju belum pernah mengenal petinju secepat dia. Karena kegesitan dan kehebatannya dia menjuluki dirinya dengan “the Greatest atau Yang Terbesar”
Pernah menempati posisi teratas dalam 10 besar petinju top kelas berat sepanjang masa dalam The Ring edisi terbaru.
Kriteria pemilihan, petinju tersebut harus memiliki kharisma dan prestasi besar serta terkenal.
Kelas yang dinilai paling bergengsi dan sering melahirkan tontonan hebat dan honor berlimpah ini telah menghasilkan ribuan juara dunia tinju. Namun setelah melewati seleksi sangat ketat, terpilihlah 10 besar petinju top kelas berat sepanjang masa tersebut.

10 Petinju Besar Terbaik :

1. Muhammad Ali

2. Joe Louis

3. Jack Johnson

4. Rocky Marciano

5. Jack Dempsey

6. Larry Holmes

7. James J Jeffries

8. Evander Holyfield

9. George Foreman

10. Mike Tyson

Muhammad Ali pantas menempati posisi teratas. Pasalnya, jagoan dengan tinggi 190cm ini telah membukukan prestasi spektakuler, tiga kali juara dunia di tiga dekade.

Lahir sebagai Cassius Marcellus Clay, Jr. pada 17 Januari, 1942 di Kentucky, Amerika Serikat, adalah pensiunan petinju Amerika Serikat. Pada tahun 1999, Ali dianugerahi « Sportsman of the Century » oleh Sports Illustrated.Ali tiga kali menjadi Juara Dunia Tinju kelas Berat. Namanya mengikuti nama ayahnya, Cassius Marcellus Clay, Sr. seorang pelukis billboard (papan iklan) dan rambu lalu lintas dan ibu Odessa Grady Clay, seorang pencuci pakaian. Ali kemudian mengubah namanya setelah bergabung dengan Nation of Islam dan akhirnya memeluk Islam Sunni pada tahun 1975.

Kilas Balik
Pada usia 12 tahun, Clay, jr. melapor kepada polisi bernama Joe Martin, bahwa sepeda BMX barunya dicuri orang. Joe Martin, yang juga seorang pelatih tinju di Louisville, mengajari Clay kecil cara bertinju agar dapat menghajar si pencuri sepeda. Clay kecil sangat antusias berlatih tinju di bawah bimbingan Martin.
1960: Meraih medali emas kelas berat ringan Olimpiade 1960 di Roma, Italia. Ketika belum genap berusia 20 tahun.

29 Oktober 1960: Debut pertama di ring profesional. Menang angka 6 ronde atas Tunney Hunsaker.

25 Februari 1964: Merebut gelar juara dunia kelas berat dengan menang TKO ronde 7 dari 15 ronde yang direncanakan atas Sonny Liston di Florida, AS. Liston mengalami cedera pada leher yang membuatnya mengundurkan diri dari pertandingan.
Segera setelah menang atas Liston, Clay memproklamirkan agama dan nama barunya, Muhammad Ali, serta masuknya dia dalam kelompok Nation of Islam yang kontroversial. (Pada buku biografi Ali yang diluncurkan pada tahun 2004, Ali mengaku sudah tidak bergabung dengan NOI, tapi bergabung dengan jamaah Islam Sunni pada tahun 1975.

25 Mei 1965: tanding ulang antara Ali melawan Liston yang penuh kontroversi. Pukulan Ali yang begitu cepat menimbulkan spekulasi di kalangan tinju yang menyebut pukulan Ali sebagai ‘phantom punch’. Pukulan itu begitu cepat, sehingga tidak tampak mengenai Liston yang roboh. Banyak isu yang berkembang, termasuk suap dan ancaman orang-orang NOI terhadap Liston dan keluarganya, tapi Liston membantah semua itu dengan menyatakan pukulan Ali menghantamnya dengan keras.

1967 – 1970 Ali diskors oleh Komisi Tinju karena menolak program wajib militer pemerintah AS dalam perang Vietnam. Ungkapannya yang terkenal dalam menolak wamil ini, « Saya tidak ada masalah dengan orang-orang Vietcong, dan tidak ada satupun orang Vietcong yang memanggilku dengan sebutan Nigger! »

8 Maret 1971, Ali kalah angka dari Joe Frazier di New York, dan harus menyerahkan gelarnya.

30 Oktober 1974: Rumble in the Jungle. Ali merebut kembali gelar juara kelas berat WBC dan WBA setelah menumbangkan George Foreman di Kinsasha, Zaire pada ronde ke 8.

1 Oktober 1975: Thrilla in Manila. Presiden Ferdinand Marcos memboyong pertandingan Ali vs Fraizer III ke kota Manila, Filipina. Ali menang TKO ronde 14 dalam pertandingan yang sangat seru dan menegangkan, bahkan disebut sebagai salah satu « pertandingan tinju terbaik abad ini ». Frazier yang kelelahan akhirnya menyerah dan tidak mau melanjutkan pertandingan pada istirahat menjelang ronde ke-15. Setelah itu, saat akan wawancara dengan televisi, Ali terjatuh karena kehabisan tenaga; setelah istirahat beberapa menit, wawancara bisa dilakukan, tapi Ali harus duduk di bangku karena sudah kehabisan tenaga.

15 September 1978: Ali mengalahkan Leon Spinks dengan angka 15 ronde di New Orleans. Ali mengukuhkan diri sebagai petinju pertama yang merebut gelar juara kelas berat sebanyak 3 kali.

6 September 1979: Ali menyatakan mengundurkan diri dari tinju, dan gelar dinyatakan kosong.

2 Oktober 1980: Ali kembali ke ring tinju, melawan bekas kawan latih tandingnya, Larry Holmes, yang telah menjadi juara dunia kelas berat dalam pertandingan yang diberi judul « The Last Hurrah ». Dalam pertandingan yang berat sebelah, Ali tidak mampu berkutik, sedang Holmes tampak tidak tega ‘menghabisi’ Ali yang tak berdaya. Ali menyerah dan mengundurkan diri pada ronde 11, Holmes dinyatakan menang TKO.
Disebutkan, dalam laporan medis yang dilakukan di Mayo Clinic, Ali dinyatakan menderita gejala sindrom Parkinson seperti tangan yang gemetar, bicara yang mulai lamban, serta ada indikasi bahwa ada kerusakan pada selaput (membran) di otak Ali. Namun Don King merahasiakan hasil medis ini, dan pertandingan Ali vs Holmes tetap berlangsung.
Sebelum pertandingan melawan Larry Holmes ini, Dr. Ferdie Pacheco, dokter pribadi yang telah mendampingi Ali selama puluhan tahun, dengan terpaksa mengundurkan diri karena Ali tidak mau mendengarkan nasehatnya untuk menolak pertandingan melawan Holmes, dan lebih memilih bertanding melawan Holmes. Dalam salah satu buku biografi Ali, Pacheco mengemukakan bahwa selama latihan Ali sempat kencing darah akibat kerusakan ginjal terkena pukulan, dia juga mengemukakan bahwa Ali sudah memiliki gejala sindrom Parkinson sejak sebelum pertandingan ini.
Setelah pertandingan tersebut, dilakukan cek medis ulang, dan hasilnya menguatkan hasil sebelumnya.

11 Desember 1981, sekali lagi Ali yang sudah uzur, mencoba kembali ke dunia tinju melawan Trevor Berbick di Bahama dalam pertandingan yang diberi tajuk « Drama in Bahama ». Dalam kondisi renta, Ali mampu tampil lebih bagus daripada saat melawan Holmes, walaupun akhirnya kalah angka 10 ronde. Setelah pertandingan ini, Ali benar-benar pensiun dari dunia tinju.

Muhammad Ali pernah ke Indonesia
Ali pertama kali menginjakkan kaki di bumi Indonesia pada tahun 1973. Pada 20 Oktober 1973, Ali ‘menyiksa’ lawannya, Rudi Lubbers, selama 12 ronde dalam pertandingan kelas berat tanpa gelar di Istora Senayan, Jakarta. Oleh publik dan pers Indonesia, pertandingan Ali vs Lubbers disebutkan sebagai pertandingan eksibisi, namun nyatanya ini adalah pertandingan resmi, walau tidak memperebutkan gelar.
Kesan pertama berkunjung ke negara ini pada tahun 1973 adalah « Sebuah negara yang unik, di mana penduduknya sangat bersahabat, dan selalu tersenyum kepada siapapun. »
Setelah beberapa kali kunjungan ke negara ini, Ali yang sudah pensiun dari dunia tinju terakhir menginjakkan kaki di bumi Indonesia pada 23 Oktober 1996, dan sempat bertemu pejabat tinggi negeri ini.

Istri pertama: Sonji Roi (menikah tanggal 14 Agustus 1964, namun cerai pada 10 januari 1966 karena Ali menganggap Roi tidak berpakaian Islami).

Istri kedua: Belinda Boyd (menjadi Khalilah Ali setelah menikah), menikah pada 17 August 1967. Mereka memiliki 3 anak, Jamilah dan Rasheda (putri kembar) dan Muhammad Ali, Jr. Ali dan Belinda akhirnya bercerai karena Belinda mendapati Ali berselingkuh dengan Veronica Porche Anderson. Dalam film dokumenter Ali (« When We Were Kings ») ditunjukkan Belinda ‘melabrak’ Ali di arena, menjelang pertandingan Ali vs Foreman di Zaire, 1975. Pada tahun 1977, Ali dan Belinda resmi bercerai.

Pada tahun 1977 pula, Ali menikah dengan Veronica Porche Anderson (lebih dikenal sebagai Veronica Ali), dan memiliki dua putri Hanna dan Laila Ali. Laila Ali sendiri kelak memutuskan jadi petinju wanita, dan kelak menjadi juara dunia tinju wanita. Ali dan Veronica tetap menjadi pasutri sampai sekarang.

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :