Belajar Dari Pola Pengasuhan Anak di Jepang

25 Fév

Belajar Dari Pola Pengasuhan Anak di Jepang

Di sebuah shopping arcade di pusat kota Kyoto, saat sedang menikmati segelas cappucino sambil mengamati orang berbelanja, tiba-tiba saya dikejutkan suara keras tangisan anak kecil. Rupanya ada gadis kecil berumur 4 tahunan tersandung dan jatuh. Lututnya berdarah. Kami heran ketika melihat respons ibunya yang hanya berdiri sambil mengulurkan tangan ke arah gadis kecilnya tanpa ada kemauan untuk segera meraih anaknya. Cukup lama. Beberapa menit adegan ini berlangsung. Si ibu tetap sabar dan keras hati untuk menunggu anaknya menyelesaikan sendiri rasa shock dan sakitnya. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya si gadis kecil mulai berusaha berdiri lagi, dan dengan bantuan kecil tangan ibunya dia kembali berdiri. Masih sambil terisak-isak ia pun berjalan lagi.

Dalam benak saya waktu itu, kok tak punya hati ibu si gadis kecil ini? Tega membiarkan anaknya dalam kondisi kesakitan. Ingatan langsung terbang ke Indonesia . Jika kejadian yang sama terjadi di Kota Jakarta ataupun Yogyakarta , saya yakin si ibu pasti akan langsung meraih dan menggendong untuk menenangkan anaknya.

Dari adegan itu, bisa kita bayangkan perbedaan cara pengasuhan anak Jepang dan anak Indonesia . Dari pengamatan saya selama hampir setahun tinggal di Jepang, anak Jepang cenderung dibiasakan dari kecil untuk mengatasi berbagai kesulitan sendiri, sementara anak Indonesia selalu disediakan asisten untuk mengatasi kesulitannya. Babysitter atau pembantu rumah tangga pun tidak ada dalam kebiasaan keluarga-keluarga di Jepang. Sebaliknya di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta , Bandung , Yogyakarta dan lain-lain kehadiran mereka wajib ada sebagai asisten keluarga maupun sebagai asisten anak-anaknya.

Dalam sebuah studi perbandingan yang dilakukan oleh Heine, Takata dan Lehman pada tahun 2000 yang melibatkan responden dari mahasiswa Jepang dan mahasiswa Kanada dinyatakan bahwa mahasiswa Jepang lebih tidak peduli dengan inteligensi dibandingkan orang Kanada. Hal ini disebabkan orang Jepang lebih menghargai prestasi didasarkan pada usaha keras daripada berdasarkan kemampuan inteligensi. Artinya, bagi orang Jepang kemauan untuk menderita dan berusaha keras menjadi nilai yang lebih penting daripada kemampuan dasar manusia seperti inteligensi.

Dalam keseharian dengan mudah kita dapat menyaksikan mereka selalu berjalan dalam ketergesaan karena takut kehilangan banyak waktu, disiplin dan selalu bekerja keras. Suasana kompetitif dan kemauan untuk menjadi yang lebih baik (yang terbaik) sangat menonjol. Studi ini juga menemukan bahwa orang Jepang memiliki budaya kritik diri yang tinggi, mereka selalu mencari apa yang masih kurang di dalam dirinya. Untuk kemudian mereka akan segera memperbaiki diri.

Lain lagi Indonesia , yang saat ini terjebak dalam kesalahan umum di mana hasil akhir menjadi segala-galanya. Hasil akhir lebih dihargai dibandingkan usaha keras. Tengok saja kompetisi yang terjadi dari anak usia sekolah tingkat SD hingga perguruan tinggi untuk mendapatkan nilai kelulusan yang tinggi. Guru, orang tua maupun masyarakat umum selalu menekan anak untuk mendapatkan nilai kelulusan yang tinggi, sehingga mereka pun menghalalkan segala cara. Kita baca di koran polisi menangkap para guru karena berlaku curang dalam ujian nasional, sementara di tempat lain orang tua membeli soal ujian, siswa menyontek dan lain sebagainya.

Pola pengasuhan ini, pada gilirannya pasti berperan besar dalam pembentukan karakter anak dalam perkembangan berikutnya. Oleh karenanya, memberi kesempatan seluas-luasnya pada anak untuk mengembangkan semua potensinya adalah satu prinsip dasar dari satu pola pengasuhan yang sangat baik bagi pembentukan karakter anak. Orang tua, asisten, atau pun orang yang lebih dewasa jangan mengambil alih tanggung jawab anak.

Sebagai contoh, beri kesempatan pada anak untuk belajar makan secara benar dengan tangannya sendiri sejak dia mampu memegang sendok. Jangan diambil alih hanya karena alasan akan membuat kotor. Atau beri kesempatan pada anak untuk menghadapi dunia sekolah pertama kali tanpa banyak intervensi dari pengasuh maupun orang tua. Memberi rasa aman pada anak memang penting jika diberikan pada saat yang tepat. Tetapi menunggui anak selama dia belajar di sekolah adalah pemberian rasa aman yang tidak perlu. Momen ini adalah momen penting bagi anak untuk belajar menghadapi dunia di luar rumah tanpa bantuan langsung orang-orang di sekitarnya.

Pengalaman anak merasa mampu menghadapi persoalan dengan kemampuannya sendiri akan menumbuhkan kepercayaan diri. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya membatasi diri hanya menjadi partner diskusi yang membantu anak menemukan berbagai kemungkinan solusi. Orang tua kadang harus berteguh hati membiarkan anak mengalami rasa sakit, menderita, dan rasa tertekan dalam isi dan porsi yang tepat, karena hal itu akan sangat baik untuk perkembangan mental anak.

Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang siap menghadapi tantangan hidup dan tidak mudah menyerah. Hargai anak bukan dari hasil akhirnya melainkan dari proses perjuangannya. Anak perlu diberi pembelajaran (dan juga orang tua perlu belajar) untuk bisa menikmati dan menghargai proses, meskipun proses seringkali tidak nyaman.

Dr. Christina Siwi Handayani, Staf Pengajar Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

4 Réponses to “Belajar Dari Pola Pengasuhan Anak di Jepang”

  1. palembang mars 7, 2009 à 3:34 #

    hello.. salam kenal ya..
    aku indra..
    ku berasal dari palembang..
    aku senang banget membaca blog kamu..
    moga kita bisa menjadi teman ya

    • yani N mars 11, 2009 à 12:06 #

      hi Indra….
      salam kenal juga…terima kasih ya sudah mampir….

  2. Andi avril 12, 2009 à 3:57 #

    Usia saya udah 32 tahun, tapi rasa ketergantungan sama ortu masih besar, boleh minta terapi2 yang perlu andik lakukan untuk meminimalkan dampak proses asuh ortu waktu dulu hingga saat inipun sudah punya punya anak masih minta susu pada ortu. trims. salam hangat. Andik.

    • yani N avril 14, 2009 à 5:41 #

      Hi Mas Andik, terima kasih sudah berkunjung….saya senang sekali kalau artikel ini juga bermanfaat buat orang lain.
      sepertinya kondisi kita sangat berlawanan ya..saya termasuk anak yang mendapat pola asuh sangat keras dan terkadang sedikit kejam dari ortu saya, terutama mama. Jadi untuk cenderung « manja atau bergantung » rasanya jauh sekali dalam benak saya. Dulu saya selalu merasa menderita dengan cara mama saya mendidik saya, karena masa kecil saya sepertinya habis untuk bekerja dan bekerja, kalo terlihat sedang duduk santai atau menonton tivi jangan heran tiba2 ada sapu atau benda terbang lain yang menghampiri saya,belum lagi kalau bangun kesiangan di hari libur,bunyi penggorengan yang dipukul sendok sudah bernyanyi ditelinga saya..bayangkan,serasa hidup dibarak militer..
      sampai akhirnya saya kuliah di luar kota dan jauh dari orangtua, rasanya senang bisa terbebas dari segala aktivitas « bekerja » yang menurut saya agak membosankan. Tapi saya bersyukur, dengan semua kebiasaan yang cukup « keras » akhirnya membentuk karakter saya sampai sekarang untuk berusaha tidak tergantung dengan orang lain, meskipun saya sadar tidak ada orang yang sempurna, kadang kita juga membutuhkan bantuan orang lain, tapi pastinya itu berbeda dengan budaya « bergantung » pada orang lain, setidaknya kita sudah berusaha semampu yang bisa kita lakukan, jika sudah sampai pada titik keterbatasan kita sebagai manusia, tidak ada salahnya meminta bantuan orang lain.
      Jujur, saya bukan orang yang experd dalam hal pola pengasuhan seperti yang Mas Andik tanyakan, jadi untuk terapi-terapi saya tidak punya, hanya saja berdasarkan pengalaman saya, semua itu adalah pembentukan karakter sejak kecil, bagaimana orangtua mendidik kita.
      Untuk Mas Andik yang masih mempunyai rasa ketergantungan yang besar dengan ortu, saya bisa melihat dari sisi positifnya, bahwa ortu Mas Andik sangat sayang dengan Mas, saya juga banyak menemukan dalam kehidupan sekitar saya, teman atau sepupu saya juga masih ada yang mengalami seperti Mas, sudah mempunyai anak, terkadang kebutuhan seperti sembako dan susu untuk anaknya masih ditanggung orangtuanya. Tidak ada yang salah, tapi kalau Mas Andik memang mau berubah lebih baik atau mungkin lebih mandiri, saya pikir harus ada tekad kuat dari Mas Andik sendiri untuk berubah, saya yakin kalau kita berusaha pasti selalu ada jalan, dan jangan pernah takut kekurangan, karena ada Tuhan yang selalu memelihara dan mencukupi kebutuhan kita, bisa melalui pekerjaan kita atau rezeki yang pasti sudah Dia sediakan, bukan bermaksud menceramahi, tapi saya sudah pernah melalui semua itu, sampai di titik terendah, tapi saya bertahan untuk tidak meminta, dan Tuhan tidak pernah terlambat menolong saya, jadi tidak ada yang perlu saya kuatirkan.
      Mas Andik, mudah-mudahan sharingnya bermanfaat, Mas harus tetap bersyukur karena Mas bukan satu-satunya orang yang mengalami hal ini dan semua itu masih bisa diperbaiki.

      thanks

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :