DILARANG MENGACUNG

22 Mar

nusa-dharma7

Lihat apa yang saya temukan ketika mengunjungi pantai di Nusa Dua Bali, didekat pantai tersebut ada jalan kecil mendaki menuju sebuah pura kecil bernama Pura Nusa Dharma. Pura ini memang tidak terlalu terkenal seperti Besakih,tapi buat saya Pura ini cukup unik, karena mewakili semua agama yang ada di Indonesia, jadi tidak hanya menggambarkan agama hindu saja. Pura ini di Bangun oleh seorang keturunan chinesse bernama Tan Sie Yong, ibunya orang Bali asli, dan Tan Sie Yong ini memiliki nama Bali Ketut Jaya, orang Bali biasa memanggilnya Babah Ketut Jaya.
Saya tidak akan menceritakan lebih detail tentang Pura ini, mungkin pada kesempatan yang lain saya ingin sekali membahasnya, karena saya sudah mendengar langsung dari Belih I Wayan Badra yang sehari-harinya memelihara Pura Nusa Dharma ini, tentang sejarahnya yang unik.

Ada yang mencuri perhatian saya ketika pertama kali memasuki jalan menuju Pura, terlihat hamparan rumput yang cukup luas dan ditanami pohon-pohon kecil dengan jalan setapak kecil untuk menuju Pura dan sekitarnya.
Sebelum sampai dihalaman Pura, kita disambut papan peringatan yang cukup besar, dari lima peringatan yang tertulis, peringatan terakhir adalah yang paling mencuri perhatian saya. Disitu tertulis besar-besar :

PENGUMUMAN
– Mohon turut serta menjaga kesakralan Pulau ini
– Mohon Jaga Ketertiban dan keamanan
– Membuang sampah sembarangan dikenakan denda Rp. 50.000
– Dilarang menembak dan memetik bunga
– Dilarang mengacung dan panggang-panggangan

Well, dari semua peringatan diatas sebenarnya cukup masuk akal untuk ukuran tata krama di tempat ibadah,
tapi mengacung, rasanya agak janggal. Dulu waktu saya kecil, orang-orang tua sering bilang jangan pernah mengacung atau menunjuk jika sedang ada di dekat atau dipemakaman, entah apa artinya, konon nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.Yah, demi menghormati tradisi, sampai sekarang pun masih agak takut juga kalau melakukan itu.
Awalnya saya menerjemahkan kata mengacung seperti kalau kita disekolah dan guru sedang mengabsen, lalu ketika nama kita disebut kita pun mengacung atau mengangkat tangan dengan jari telunjuk ke atas. Atau saya pun sempat menerjemahkan mengacung dengan pengertian saya sendiri, yaitu menunjukkan sesuatu dengan jari telunjuk kita.
Karena penasaran dan dari pada salah kaprah, akhirnya saya menanyakan pada Belih Wayan arti peringatan pada butir ke lima itu.
Ternyata eh ternyata arti dari kata mengacung tersebut adalah menawarkan barang kepada orang lain alias berjualan….ooo…jauh sekali dari apa yang saya pikirkan…
Jadi maksudnya tidak boleh berjualan atau ada pedagang asongan disekitar wilayah Pura ini.
Padahal kalau saya menilik arti kata mengacung dalam kamus besar bahasa Indonesia,arti kata acung atau mangacung adalah sebagai berikut:

1acung v, meng·a·cung v mengangkat ke atas untuk menunjukkan diri (tt tangan): ketika guru mengabsen, terlihat tangan ~ menandakan yg dipanggil itu hadir;
meng·a·cung·kan v 1 mengangkat (tangan dsb) ke atas untuk menunjukkan diri: ia ~ tangannya ketika ingin menjawab pertanyaan guru; 2 menodongkan; mengacukan senjata

Kalau lihat dari arti dikamus, apa yang saya pikirkan sebenarnya tidak terlalu meleset, tapi saya jadi menemukan kata baru, mungkin suatu hari bisa ditambahkan arti kata mengacung dalam kamus edisi berikutnya.

(yaniN 22 mars’09)

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :